Halaman

23/10/23

Amanat Pembina Upacara Hari Santri Nasional; Jihad Santri Jayakan Negeri

Bpk. H. Muh. Fauzi, SHI, Ketua Tanfidziyah NU
Ranting Maguwoharjo, sebagai pembina upacara
menyampaikan amanat.
Hari ini 78 tahun silam, tepatnya tanggal 22 Oktober 1945, terjadi peristiwa penting yang merupakan rangkaian sejarah perjuangan Bangsa Indonesia dalam melawan penjajah. Dikatakan penting, karena hari ini, 78 tahun silam, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mengundang konsul-konsul NU di seluruh Jawa dan Madura, yang hadir pada tanggal 21 Oktober 1945 di kantor PB ANO (Ansor Nahdlatul Oelama) di Jl. Bubutan Surabaya, menetapkan satu keputusan dalam bentuk resolusi yang diberi nama “Resolusi Jihad Fii Sabilillah”.

Dalam tempo singkat, Surabaya guncang oleh kabar seruan jihad dari PBNU ini. Dari masjid ke masjid, dan dari musholla ke musholla, tersiar seruan jihad yang dengan sukacita disambut penduduk Surabaya yang sepanjang bulan September sampai Oktober telah meraih kemenangan dalam pertempuran melawan sisa-sisa tentara Jepang yang menolak tunduk kepada arek-arek Surabaya.

Demikianlah, sejak dimaklumkan tanggal 22 Oktober 1945, Resolusi Jihad membakar semangat seluruh lapisan rakyat hingga pemimpin di Jawa Timur, terutama di Surabaya, sehingga dengan tegas mereka berani menolak kehadiran Sekutu di tanah air. Pertempuran demi pertempuran dengan semangat jihad dilakukan para santri dan arek-arek Suroboyo hingga pertempuran hebat 10 November 1945 dan bangsa kita berhasil mempertahankan kemerdekaan.

Bapak-bapak, Ibu-Ibu, para sahabat, dan para santri semua, inilah fakta sejarah, bahwa para ulama kita, para kiai kita, dan para santri di zaman memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, mempunyai peran yang sangat besar dan penting. Oleh karena itu, kita warga Nahdlatul Ulama, para santri semua, mari terus mewarisi semangat jihad dalam menjaga negeri tercinta ini. Hubbul wathan minal iman.

Hari ini, 22 Oktober 2023, mari tetap kita kobarkan semangat menjaga negeri. Jihad Santri, Jayakan Negeri, di bidang kita masing-masing. Apalagi, ini tahun politik. Mari kita sukseskan perhelatan demokrasi negara kita ini dengan baik. Terutama kita warga Nahdlatul Ulama, mari kita pilih calon terbaik kita, baik di DPRD kabupaten, provinsi, pusat, DPD, maupun presiden dan wakilnya. Semoga negeri kita senantiasa penuh berkah, menjadi negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghofur. Allaahumma aamiin...

31/10/22

Sejarah Singkat NU

Kalangan pesantren gigih melawan kolonialisme dengan membentuk organisasi pergerakan, seperti Nahdlatut Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada tahun 1916. Kemudian tahun 1918 didirikan Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan Nahdlatul Fikri (Kebangkitan Pemikiran), sebagai wahana pendidikan sosial politik kaum keagamaan dan kaum santri. Selanjutnya didirikanlah Nahdlatut Tujjar, (Pergerakan Kaum Sudagar) yang dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Dengan adanya Nahdlatul Tujjar itu, maka Taswirul Afkar, selain tampil sebagai kelompok studi juga menjadi lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota.
 
Sementara itu, keterbelakangan, baik secara mental, maupun ekonomi yang dialami bangsa Indonesia, akibat penjajahan maupun akibat kungkungan tradisi, menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa ini, melalui jalan pendidikan dan organisasi. Gerakan yang muncul pada 1908 tersebut dikenal dengan Kebangkitan Nasional. Semangat kebangkitan memang terus menyebar ke mana-mana--setelah rakyat pribumi sadar terhadap penderitaan dan ketertinggalannya dengan bangsa lain, sebagai jawabannya,  muncullah berbagai organisai pendidikan dan pembebasan.
 
Ketika Raja Ibnu Saud hendak menerapkan asas tunggal yakni mazhab wahabi di Makkah, serta hendak menghancurkan semua peninggalan sejarah Islam maupun pra-Islam, yang selama ini banyak diziarahi karena dianggap bi'dah. Gagasan kaum wahabi tersebut mendapat sambutan hangat dari kaum modernis di Indonesia, baik kalangan Muhammadiyah di bawah pimpinan Ahmad Dahlan, maupun PSII di bahwah pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto. Sebaliknya, kalangan pesantren yang selama ini membela keberagaman, menolak pembatasan bermadzhab dan penghancuran warisan peradaban tersebut.
 
Sikapnya yang berbeda, kalangan pesantren dikeluarkan dari anggota Kongres Al Islam di Yogyakarta 1925, akibatnya kalangan pesantren juga tidak dilibatkan sebagai delegasi dalam Mu'tamar 'Alam Islami (Kongres Islam Internasional) di Makkah yang akan mengesahkan keputusan tersebut.
 
Didorong oleh minatnya yang gigih untuk menciptakan kebebasan bermadzhab serta peduli terhadap pelestarian warisan peradaban, maka kalangan pesantren terpaksa membuat delegasi sendiri yang dinamai dengan Komite Hejaz, yang diketuai oleh KH. Wahab Hasbullah.
 
Atas desakan kalangan pesantren yang terhimpun dalam Komite Hejaz, dan tantangan dari segala penjuru umat Islam di dunia, Raja Ibnu Saud mengurungkan niatnya. Hasilnya hingga saat ini di Makkah bebas dilaksanakan ibadah sesuai dengan madzhab mereka masing-masing. Itulah peran internasional kalangan pesantren pertama, yang berhasil memperjuangkan kebebasan bermadzhab dan berhasil menyelamatkan peninggalan sejarah serta peradaban yang sangat berharga.
 
Berangkat dari komite dan berbagai organisasi yang bersifat embrional dan ad hoc, maka setelah itu dirasa perlu untuk membentuk organisasi yang lebih mencakup dan lebih sistematis, untuk mengantisipasi perkembangan zaman. Maka, setelah berkordinasi dengan berbagai kiai, akhirnya muncul kesepakatan untuk membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926). Organisasi ini dipimpin oleh KH. Hasyim Asy'ari sebagi Rais Akbar.
 
Untuk menegaskan prisip dasar orgasnisai ini, maka KH. Hasyim Asy'ari merumuskan Kitab Qanun Asasi (prinsip dasar), kemudian juga merumuskan kitab I'tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah. Kedua kitab tersebut kemudian diejawantahkan dalam Khittah NU, yang dijadikan dasar dan rujukan warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan dan politik.

Dikutip dari NU Online.

24/09/22

Di Stadion Maguwoharjo Bersama Habib Luthfi

 

 
Hadirilah
Manaqib, Istighatsah, dan Pengajian Akbar
"Silaturahmi Jam'iyyah Thoriqoh untuk Harmoni Nusantara"
 
Bersama
Maulana Al Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya
 
Sabtu, 1 Oktober 2022, Pkl.19.30 s/d selesai
Di Stadion Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta.

08/08/22

Mengetuk Pintu Langit Bersama Anak Yatim

H. Muh. Fauzi, SHI, Ketua Tanfidziyah
Ranting NU Maguwoharjo, menyampaikan sambutan.
Sabtu (6/8/2022), Kotak Koin Nahdlatul Ulama (KOIN NU) yang digerakkan oleh Pengurus Ranting NU Maguwoharjo, di bawah koordinasi UPZISNU Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, mengadakan pengajian dengan tema “Mengetuk Pintu Langit Bersama Anak Yatim”.

Pengajian dan santunan anak yatim ini diselenggarakan di Masjid Al-Huda, Karangnongko, Maguwoharjo. Sebanyak 132 anak yatim hadir dalam kegiatan ini yang diantar oleh keluarga atau pengasuhnya. Hadir pula pengurus UPZISNU Depok, jajaran syuriah dan tanfidziyah MWC NU Depok, PCNU Sleman, para kiai dan tokoh masyarakat, serta warga nahdliyyin di Maguwoharjo dan sekitarnya.

Para anak yatim dan jamaah memadati Masjid Al-Huda, Karangnongko, Maguwoharjo.

Kepala Desa Maguwoharjo, Kasidi, SE, dalam sambutannya menyampaikan banyak terima kasih kepada Pengurus Ranting NU Maguwoharjo, Pengurus KOIN NU, dan masyarakat Maguwoharjo pemegang kotak KOIN NU. Pengumpulan KOIN NU sungguh bermanfaat besar bagi masyarakat.

Mahalul Qiyam dan doa memohon rahmat dan barakah dari Allah Swt.

Senada dengan Pak Lurah, H. Muh. Fauzi, SHI, selaku Ketua Tanfidziyah Ranting NU Maguwoharjo, dalam sambutannya juga menyampaikan, bahwa uang seratus rupiah, dua ratus rupiah, yang bapak/ibu masukkan ke dalam Kotak KOIN, jumlahnya menjadi tidak sedikit apabila dikumpulkan dengan Kotak KOIN warga lainnya. Apalagi, ketika memasukkan uang ke dalam Kotak KOIN di waktu shubuh atau pagi hari, akan didoakan oleh malaikat agar hartanya semakin bertambah dan barakah. Pak Haji Fauzi juga menegaskan bahwa Kotak KOIN ini dari umat dan dimanfaatkan sepenuhnya untuk umat.

Bapak Lurah Desa Maguwoharjo, Kasidi, SE, didampingi Bpk. H. Muh. Fauzi, SHI, menyampaikan santunan kepada para anak yatim.

Setelah mahalul qiyam, ada doa anak yatim yang dipanjatkan oleh Ananda Muhammad Eriko Ridho Saputra. Di antaranya bermunajat, “Ya Allah, ya Rabbana, hamba mohon, berilah rezeki yang penuh barakah, kepada siapa pun yang peduli kepada kami para yatim, muliakanlah, bahagiakanlah, dunia dan akhirat. Sebab, semua adalah keluarga kami, saudara kami.” Doa diaminkan oleh seluruh jamaah yang hadir.

Ustadz Miko Cakcoy Pathokbegoro, didampingi Pak Lurah dan sebagian petugas lapangan KOIN NU Maguwoharjo.

Ustadz Miko Cakcoy Pathoknegoro, dengan gaya khasnya yang penuh humor, sehingga hadirin dan para anak yatim yang hadir senang mendengarkan taushiyahnya, menyampaikan pentingnya menjadi orang tua yang bisa menjadi teladan yang baik bagi anak-anak. Cakcoy juga menyampaikan kepada para anak yatim agar tidak berkecil hati, terus mempunyai cita-cita yang besar, semoga menjadi anak yang shalih/shalihah dan bermanfaat bagi sesama. Aamiin. (muhaiminazzet)

07/06/22

Manfaat KOIN NU Semakin Dirasakan Masyarakat

H. Muh. Fauzi sedang menyampaikan
manfaat dari KOIN NU kepada masyarakat.
Kotak Koin Nahdlatul Ulama (KOIN NU) yang digerakkan Pengurus Ranting NU Maguwoharjo, di bawah koordinasi UPZISNU Kecamatan Depok, Sleman, semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Di antara manfaat yang sangat dirasakan oleh masyarakat adalah layanan ambulans gratis. Bagi masyarakat yang anggota keluarganya sakit atau meninggal dunia, bisa menghubungi ambulans melalui nomor WA 0853-1445-3144 atau bisa juga melalui nomor 0813-9244-4704.

H. Muh. Fauzi, SHI, selaku Ketua Tanfidziyah NU Ranting Maguwoharjo, menyampaikan banyak terima kasih kepada segenap warga masyarakat, khususnya di Maguwoharjo, yang telah menjadi pemegang Kotak KOIN NU. Warga yang dengan sukarela memegang Kotak KOIN NU, memasukkan rupiah demi rupiah setiap hari, lalu sebulan sekali diambil oleh para Petugas KOIN NU. Semoga Allah memberikan balasan kebaikan yang berlipat, baik di dunia maupun di akhirat.
Mas Agus Sugianto bersama Ambulans NU Depok
sedang memberikan layanan kepada masyarakat.


Selain layanan ambulans gratis, tambah Pak Fauzi, manfaat KOIN NU yang dirasakan masyarakat adalah santunan kepada anak-anak yatim, keluarga dhuafa, juga tanda kasih kepada keluarga pemegang Kotak KOIN yang anggota keluarganya meninggal dunia. Di samping itu, juga memberikan bantuan kepada sahabat Ansor/Banser, Fatayat, dan Banom lain yang sedang mengadakan pelatihan atau pendidikan. Juga manfaat lainnya.
Dari kiri ke kanan: KH. Rahmat Mizan (Ketua Tanfidziyah MWC NU Depok), H. Muh. Fauzi (Ketua Tanfidziyah NU Ranting Maguwoharjo),
Muh. Mustofa (Ketua KOIN NU Maguwoharjo), dan M. Mafudz (Petugas KOIN, Rois Ds.Kradenan)


Gerakan KOIN NU ini bisa sukses, juga karena peran para Petugas KOIN yang berada di wilayah padukuhan. Oleh karena itu, Muh. Mustofa, selaku Ketua KOIN NU Maguwoharjo, juga mengucapkan banyak terima kasih kepada para Petugas KOIN NU di lapangan. Mari bersama-sama berjuang dan berbakti untuk NU. Bismillah nderek para kyai. Semoga kita semua diakui sebagai murid Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Aamiin... (muhaiminazzet)

08/03/21

Syair “Sangkan Paraning Dumadi” karya KH. Ali Maksum Krapyak

KH. Ali Maksum, Krapyak.
Inilah syi’iran yang sering dilantunkan oleh KH. Ali Maksum ketika memberikan pengajian kepada masyarakat umum. Isinya bagus sekali. Sangat menggugah jiwa. Betapa penting kita menyadari “dari mana”, “untuk apa”, dan “ke mana tujuan hidup kita”.


صَـلا َةُ اللهِ سَـلا َمُ اللهِ *** عَـلَى طـهَ رَسُـوْلِ اللهِ
صَـلا َةُ اللهِ سَـلا َمُ اللهِ *** عَـلَى يـس حَبِيْـبِ اللهِ

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللَّهْ *** اَلْمَلِكُ الْحَـقُّ الْمُـبِيْنْ
مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللَّهْ *** صَادِقُ الْوَعْدِاْلأمِيْنْ


(1)
Eling-eling siro manungso
Temenono anggonmu ngaji
Mumpung durung ketekanan
Malaikat juru pati

[Ingat-ingatlah, engkau wahai manusia. Bersungguh-sungguhlah dalam belajar/mengaji. Mumpung kita belum kedatangan, malaikat pencabut nyawa]


(2)
Awak-awak wangsulono
Pitakonku marang siro
Soko ngendi siro iku
Menyang ngendi tujuanmu

[Wahai para manusia, jawablah pertanyaanku kepadamu, dari mana engkau hidup, dan ke mana tujuanmu]


(3)
Kulo gesang tanpo nyono
Kulo mboten nggadah sejo
Mung kersane Kang Kuwoso
Gesang kulo mung sak dermo

[Kita hidup tanpa disangka. Kita tidak punya kehendak. Semuanya hanya kehendak Alloh Yang Maha Kuasa. Kita sekedar menjalaninya]


(4)
Gesang kulo sak meniko
Inggih wonten ngalam dunyo
Dunyo ngalam keramean
Isine mung apus-apusan

[Hidup kita saat ini, di alam dunia, dunia yang penuh keramaian, hanya permainan belaka]


(5)
Yen sampun dumugi mongso
Nuli sowan Kang Kuwoso
Siang dalu sinten nyono
Tekane sing njabut nyowo

[Jika sudah datang waktunya, kita akan menghadap kepada Yang Kuasa. Siang atau malam siapa yang menyangka, datangnya sang pencabut nyawa]


(6)
Urip nang ndunyo ‘ra suwe
Bakal ngalih panggonane
Akhirat nggon sejatine
Mung amal becik sangune

[Hidup di dunia tidak lama. Kita akan pindah. Akhirat tempat kembali yang sejati. Hanya amal kebajikan sebagai bekalnya]


(7)
Sowanmu nang Pangeranmu
Sopo kang dadi kancamu
Opo kang dadi gawanmu
Kang nyelametke awakmu

[Sewaktu menghadap kepada Tuhanmu, siapa yang akan menemanimu? Apa yang menjadi bekalmu, yang akan menyelamatkan dirimu?]


(8)
Kulo sowan nang Pangeran
Kulo miji tanpo rencang
Tanpo sanak tanpo kadang
Bondho kulo ketilaran

[Kita menghadap Tuhan, sendirian tanpa kawan, tanpa sanak saudara, harta benda juga kita tinggalkan]


(9)
Yen manungso sampun pejah
Uwal saking griyo sawah
Najan nangis anak simah
Nanging kempal boten betah

[Jika manusia sudah mati, akan pisah dari rumah dan sawahnya. Sekalipun anak-isteri menangisi, tapi berkumpul juga tidak kerasan]


(10)
Senajan berbondho-bondho
Morine mung sarung ombo
Anak bojo moro tuwo
Yen wis nguruk banjur lungo

[Sekalipun kaya raya, yang dikenakan hanya selembar kafan. Anak, isteri, mertua, seusai mengubur juga akan meninggalkan]


(11)
Yen urip tan kebeneran
Bondho kang sa’ pirang-pirang
Ditinggal dienggo rebutan
Anak podho keleleran

[Jika menjalani hidup tidak benar (tak mampu mendidik keluarga ke jalan yang benar), maka harta yang jumlahnya banyak, ditinggal mati hanya untuk rebutan. Anak-anak jadinya “keleleran” (hidup tanpa arah)]


(12)
Yen sowan kang Moho Agung
Ojo susah ojo bingung
Janji ridhone Pangeran
Udinen nganggo amalan

[Jika menghadap Alloh Yang Maha Agung, jangan susah dan jangan bingung. Janji ridho Alloh, hendaknya kau cari dengan amalan (ibadah dan amal shalih)]


(13)
Amal sholeh ‘ra mung siji
Dasare waton ngabekti
Nderek marang Kanjeng Nabi
Nderek perintah Alloh Kang Suci

[Amal shalih tidak hanya satu (banyak macamnya). Prinsipnya asal kita mau berbakti (ibadah), mengikuti jejak Kanjeng Nabi, menjalankan perintah Alloh Yang Maha Suci.


(14)
Mbangun turut ing wong tuwo
Serto becik ing tetonggo
Welaso sak podho-podho
Ojo podho saling ngino

[Berusaha berbakti kepada orang tua, berbuat baik kepada tetangga, berbelas kasih kepada sesama, dan jangan saling menghina]


(15)
Yen ngendiko sing ati-ati
Ojo waton angger muni
Roqib ‘Atid kang nulisi
Gusti Alloh kang ngadili

[Kalau berbicara yang hati-hati, jangan asal bunyi, sebab Roqib ‘Atid selalu mencatatnya, Alloh akan mengadili]


(16)
Ojo dumeh sugih bondho
Yen Pangeran paring loro
Bondho akeh tanpo guno
Doktere mung ngreko doyo

[Jangan merasa sombong dengan harta kekayaan. Bila Alloh sudah menimpakan sakit, harta yang banyak tiada guna. Dokter juga sekedar berusaha mengobati (tak bisa menyembuhkan, karena Alloh lah Penyembuh sejati)]


(17)
Mulo mumpung siro sugih
Infak ojo wegah-wegih
Darmo jo ndadak ditagih
Tetulung jo pilih-pilih

[Maka selagi masih kaya, jangan malas berinfak-sodaqoh, jangan menunggu kalau ditagih, dan kalau menolong jangan sampai pilih-pilih]


(18)
Mulo mumpung siro waras
Ngibadaho kanti ikhlas
Yen leloro lagi teko
Sanakmu mung biso ndungo

[Maka selagi sehat wal 'afiat, beribadahlah yang ikhlas. Sebab, jika tertimpa sakit, sanak saudaramu hanya dapat berdoa agar lekas sembuh (tanpa bisa membantu kekurangan ibadahmu)]


(19)
Mumpung siro isih gagah
Mempengo nyengkut jo wegah
Mengko siro yen wis pikun
Ojo nelongso karo getun

[Selagi engkau masih gagah/kuat, giatlah beribadah. Nanti jika engkau sudah pikun (tua, lemah, tak berdaya), jangan sampai hanya bisa merana dan menyesal]


(20)
Mulo konco podho elingo
Uripmu sing ngati-ati
Mung sepisan ono ndunyo
Yen wis mati ora bali

[Oleh karena itu wahai saudaraku, marilah selalu ingat. Hidup itu yang hati-hati. Hidup di dunia hanya sekali. Kalau sudah meninggal tidak akan bisa kembali]


(21)
Gusti Alloh wus nyawisi
Islam agomo sejati
Tatanan kang anyukupi
Lahir bathin kang mumpuni

[Gusti Alloh sudah memberikan kepada kita, Islam sebagai agama yang sejati, yang berisi tata-cara kehidupan lahir dan batin yang sempurna]


(22)
Gusti Alloh Pangeran kito
Al-Qur’an pedoman kito
Nabi Muhammad panutan kito
Umat Islam sedulur kito

[Gusti Alloh Tuhan kita. Al-Qur’an pedoman hidup kita. Nabi Muhammad panutan kita. Umat Islam saudara kita]


(23)
Ya Alloh Kang Moho Suci
Kulo nyuwun ilmu sejati
Kangge nglampahi agami
Nyontoh dateng kanjeng Nabi

[Ya Alloh Yang Maha Suci, hamba mohon ilmu sejati, untuk menjalankan perintah agama ini, mencontoh kepada Kanjeng Nabi]


(24)
Mugi Alloh paring ridho
Gesang kito wonten dunyo
Selamet saking beboyo
Teng akhirat mlebet swargo

[Semoga Alloh meridhoi kita dalam mengarungi kehidupan di dunia ini, selamat dari bahaya (bala’, bencana), dan di akhirat masuk surga]


(25)
Amin, amin, amin, amin
Ya Alloh Robbal ‘Alamin
Mugi Paduko ngabulno
Sedoyo panyuwun kulo

[Amin, amin, amin, amin. Ya Alloh Robbal ‘Alamin. Hamba mohon Engkau mengabulkan, semua permohonan hamba]

23/10/20

Upacara Hari Santri Anak Ranting NU Singosutan Maguwoharjo

Mengibarkan bendera Merah Putih.
Kamis pagi (22/10), Pengurus Anak Ranting NU Singosutan, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta, mengadakan upacara peringatan Hari Santri 2020. Upacara dilaksanakan di halaman Kantor Anak Ranting Singosutan. Kegiatan ini diikuti warga NU Singosutan, para pengurus Anak Ranting beserta banom, dan para tamu undangan.

Mamba’ul Bahri, S.Th.I, dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Daerah Istimewa Yogyakarta, selaku pembina upacara dalam sambutannya menyatakan rasa bangga kepada Anak Ranting Singosutan yang sudah mempunyai kantor. Ketua PW NU Care-Lazisnu DIY itu juga menyampaikan tentang pentingnya meneguhkan ajaran Ahlussunah wal jamaah an-Nahdliyyah, menggerakkan roda organisasi, dan terus menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Petugas dan peserta upacara berbaris rapi.

Pembacaan Kalam Ilahi.

Menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Yalal Wathan.
 
 
Kegiatan organisasi di Anak Ranting NU Maguwoharjo, yang diketuai oleh Sukatno, A.Md, syuriah Ahmad Saifudin, S.H.I, M.Si., ini telah berjalan dengan baik. Selain kegiatan rutin dzikir dan manakib serta kajian kitab bersama Kiai Alwi Fuadi, kegiatan lainnya di antaranya kebun produksi pada Lembaga Pemberdayaan Pertanian Nahdlatul Ulama (LP2NU) Anak Ranting Singosutan, yang telah mengadakan bibit pisang raja, ambon, emas, cavendis, susu, kepok, tanduk, dan yang lainnya. Guna memperlancar kegiatan, akses informasi dan komunikasi, di kantor Anak Ranting Singosutan juga telah dipasang wifi internet.


Hormat saat pengibaran bendera Merah Putih.

Hormat saat pengibaran bendera Merah Putih.

Pengurus Anak Ranting Singosutan foto bersama para kiai dan tamu undangan.

Bersama Ansor Banser Depok Maguwoharjo.

H. Muh. Fauzi, S.H.I, Ketua Ranting NU Maguwoharjo, yang juga hadir dalam kegiatan upacara Hari Santri tersebut, menyatakan selamat dan bangga kepada seluruh Pengurus Anak Ranting Singosutan yang telah sukses menyelenggarakan upacara Hari Santri dan kegiatan-kegiatan lainnya. Fauzi berharap Anak Ranting NU Singosutan bisa mengispirasi pengurus anak ranting lainnya, bahkan pengurus ranting, agar senantiasa bersemangat berkhidmat dalam jam’iyyah Nahdlatul Ulama.