Halaman

Tampilkan postingan dengan label Khazanah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khazanah. Tampilkan semua postingan

16/10/24

Lirik Lagu Hari Santri Nasional 2024

Upacara Hari Santri Nasional bersama Ranting NU Maguwoharjo.

 

Lirik Lagu Hari Santri Nasional 2024:

Perjalanan
Ditempuh menuju jalan terang
Menyingkap makna di setiap kata

Pengorbanan
Tak terhitung dan tak terbayangkan
Bertahanlah
Untuk ridha Tuhan

Reff :
Merengkuh juang
Membangun masa depan
Merangkai harapan
Melukiskan impian

Khidmah sejati
Yang tulus dari hati
Pengabdian yang suci
Cinta untuk negeri

Coda :
Aku santri
Kamu santri
Kita santri
Semua santri

Bersedia
Mengabdilah
Untuk bangsa
Untuk dunia.

 

*) Lagu ini diciptakan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas berkolaborasi dengan musisi santri Sastro Adi.

Makna dan Filosofi LOGO Hari Santri Nasional 2024

Logo Hari Santri Nasional (HSN) Tahun 2024 ini tampak seperti dua tali yang saling melilit dengan kombinasi warna hijau pine dan emas. Di bagian atasnya terdapat lingkaran dengan warna merah. Jika diperhatikan, dua tali yang saling melilit tersebut membentuk siluet santri yang sedang berlari. Bila kedua tali dilihat terpisah, akan membentuk huruf “S” dan “i” yang menjadi simbol Santri Indonesia. Berikut makna logo Hari Santri Nasional 2024.

1. Santri Berlari dengan Mengangkat Tangan

Logo Hari Santri 2024 menggambarkan simbol santri berlari dengan mengangkat tangan. Simbol ini melambangkan semangat juang yang tak kenal lelah. Gerakan berlari mengindikasikan progress dan dinamika. Sedangkan tangan yang terangkat melambangkan harapan, optimisme, serta tekad untuk mencapai masa depan yang lebih baik.

Ini juga bisa diartikan sebagai usaha kolektif untuk bangkit bersama, sejalan dengan semangat Hari Santri yang mengedepankan perjuangan, kerja sama, dan tekad yang kuat.

2. Bentuk Tali yang Melilit

Tali yang melilit melambangkan keterhubungan dan kesinambungan. Ini merepresentasikan keberlanjutan serta hubungan antar-generasi dalam meneruskan perjuangan serta nilai-nilai yang diwariskan dari para pendahulu. Tali juga melambangkan persatuan, kekuatan yang terikat erat, dan ketahanan dalam menghadapi tantangan masa depan.

3. Lingkaran Berwarna Merah

Lingkaran merah juga melambangkan pengorbaran yang penuh keberanian, mengingatkan akan perjuangan para pahlawan yang telah memberikan dedikasi tanpa pamrih demi masa depan yang lebih baik.

Kombinasi lingkaran dan warna merah menyiratkan bahwa perjuangan dan semangat kebersamaan harus senantiasa berputar tanpa henti, membawa keberanian dan tekad untuk mencapai kesejahteraan di masa depan.

4. Kombinasi Warna

a. Hijau Pine
Hijau sering dikaitkan dengan keharmonisan, ketenangan, dan kedamaian. Warna ini juga melambangkan pertumbuhan, kesuburan, dan spiritualitas, yang sejalan dengan peran santri dalam memperjuangkan nilai-nilai keagamaan dan perdamaian.

Hijau pine adalah warna yang lebih tenang dan elegan, melambangkan keteguhan dan stabilitas. Ini mencerminkan perjuangan santri yang dilakukan dengan kesabaran, konsistensi, dan keyakinan kuat untuk terus berkontribusi dalam membangun masa depan yang lebih baik.

b. Emas
Warna emas melambangkan kemuliaan, kejayaan, dan kesuksesan. Emas adalah warna yang diasosiasikan dengan sesuatu yang bernilai tinggi dan dihargai, mewakili masa depan cerah yang ingin diraih melalui semangat juang santri.

Emas juga mencerminkan prestasi dan pencapaian, mengisyaratkan bahwa perjalanan menuju kesejahteraan adalah tujuan yang sangat berharga dan layak diperjuangkan dengan dedikasi tinggi. Warna ini memberi kesan keagungan serta memperkuat makna spiritualitas dan nilai luhur yang diwariskan dalam perjuangan.

c. Merah
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, merah melambangkan keberanian, semangat, dan tekad. Merah dalam konteks ini mewakili semangat juang yang menyala, kekuatan untuk menghadapi rintangan, dan keberanian dalam meneruskan perjuangan.

Merah juga menggambarkan pengorbanan dan komitmen untuk terus berjuang, mewakili santri sebagai generasi yang siap menghadapi segala tantangan demi meraih kesejahteraan bersama.

SELAMAT HARI SANTRI NASIONAL 2024
Menyambung Juang, Merengkuh Masa Depan

22/09/24

Paham Keagamaan NU

Ranting NU Maguwoharjo dalam sebuah
kegiatan rutin Lailatul Ijtima'.

Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) menganut paham keagamaan Islam Ahlussunnah wal Jamaah, yaitu Islam Aswaja, sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrim aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrim naqli (skripturalis), sumber Paham Keagamaan NU tidak hanya  Al-Qur’an dan Hadits / Sunah, tetapi juga pemikiran yang menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik sebagai cara berpikir, dan termasuk sumber paham keagamaan NU adalah Ijma’ dan Qiyas

Cara berpikir semacam itu berasal dari pemikir terdahulu, seperti Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi dalam bidang teologi. Kemudian dalam bidang fiqih mengikuti empat madzhab; Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Sementara dalam bidang tasawuf, mengembangkan metode Al-Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi, yang mengintegrasikan antara tasawuf dengan syariat.

Menurut KH. Hasyim Asy’ari, paham bermadzhab timbul sebagai upaya untuk memahami ajaran  Al-Qur’an dan As-Sunnah secara benar, sebab dalam sejarahnya, sebagai upaya pemahaman terhadap dua sumber utama ajaran Islam itu, sering terjadi perselisihan pendapat. Hal ini menyebabkan banyak lahir pemikir besar (mujtahid).

Namun, karena pemikiran mereka tidak gampang dalam rumusan secara sederhana; KH. Hasyim Asy’ari dalam Kitab Risalah Aswaja-nya menyimpulkan bahwa untuk pemahaman keagamaan dan fiqih mengikuti empat mazhab (Syafi’i, Maliki, Hambali, dan Hanafi) yang menjadi ciri utama paham Ahlussunnah dan NU.

KH. Hasyim Asy'ari sebagai pendiri NU dan ulama terkemuka berpengaruh kuat pada sikap beragama umat Islam Indonesia. Bahkan, sampai saat ini pemikiran KH. Hasyim Asy'ari yang terformulasikan dalam organisasi NU menjadi acuan dalam beragama. Di antaranya seperti termaktub dalam Muqaddimah Qonun Asasi dan  juga beberapa Kitab karya KH. Hasyim Asyari. (Dikutip dari NU Cilacap Online).

31/10/22

Sejarah Singkat NU

Kalangan pesantren gigih melawan kolonialisme dengan membentuk organisasi pergerakan, seperti Nahdlatut Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada tahun 1916. Kemudian tahun 1918 didirikan Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan Nahdlatul Fikri (Kebangkitan Pemikiran), sebagai wahana pendidikan sosial politik kaum keagamaan dan kaum santri. Selanjutnya didirikanlah Nahdlatut Tujjar, (Pergerakan Kaum Sudagar) yang dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Dengan adanya Nahdlatul Tujjar itu, maka Taswirul Afkar, selain tampil sebagai kelompok studi juga menjadi lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota.
 
Sementara itu, keterbelakangan, baik secara mental, maupun ekonomi yang dialami bangsa Indonesia, akibat penjajahan maupun akibat kungkungan tradisi, menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa ini, melalui jalan pendidikan dan organisasi. Gerakan yang muncul pada 1908 tersebut dikenal dengan Kebangkitan Nasional. Semangat kebangkitan memang terus menyebar ke mana-mana--setelah rakyat pribumi sadar terhadap penderitaan dan ketertinggalannya dengan bangsa lain, sebagai jawabannya,  muncullah berbagai organisai pendidikan dan pembebasan.
 
Ketika Raja Ibnu Saud hendak menerapkan asas tunggal yakni mazhab wahabi di Makkah, serta hendak menghancurkan semua peninggalan sejarah Islam maupun pra-Islam, yang selama ini banyak diziarahi karena dianggap bi'dah. Gagasan kaum wahabi tersebut mendapat sambutan hangat dari kaum modernis di Indonesia, baik kalangan Muhammadiyah di bawah pimpinan Ahmad Dahlan, maupun PSII di bahwah pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto. Sebaliknya, kalangan pesantren yang selama ini membela keberagaman, menolak pembatasan bermadzhab dan penghancuran warisan peradaban tersebut.
 
Sikapnya yang berbeda, kalangan pesantren dikeluarkan dari anggota Kongres Al Islam di Yogyakarta 1925, akibatnya kalangan pesantren juga tidak dilibatkan sebagai delegasi dalam Mu'tamar 'Alam Islami (Kongres Islam Internasional) di Makkah yang akan mengesahkan keputusan tersebut.
 
Didorong oleh minatnya yang gigih untuk menciptakan kebebasan bermadzhab serta peduli terhadap pelestarian warisan peradaban, maka kalangan pesantren terpaksa membuat delegasi sendiri yang dinamai dengan Komite Hejaz, yang diketuai oleh KH. Wahab Hasbullah.
 
Atas desakan kalangan pesantren yang terhimpun dalam Komite Hejaz, dan tantangan dari segala penjuru umat Islam di dunia, Raja Ibnu Saud mengurungkan niatnya. Hasilnya hingga saat ini di Makkah bebas dilaksanakan ibadah sesuai dengan madzhab mereka masing-masing. Itulah peran internasional kalangan pesantren pertama, yang berhasil memperjuangkan kebebasan bermadzhab dan berhasil menyelamatkan peninggalan sejarah serta peradaban yang sangat berharga.
 
Berangkat dari komite dan berbagai organisasi yang bersifat embrional dan ad hoc, maka setelah itu dirasa perlu untuk membentuk organisasi yang lebih mencakup dan lebih sistematis, untuk mengantisipasi perkembangan zaman. Maka, setelah berkordinasi dengan berbagai kiai, akhirnya muncul kesepakatan untuk membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926). Organisasi ini dipimpin oleh KH. Hasyim Asy'ari sebagi Rais Akbar.
 
Untuk menegaskan prisip dasar orgasnisai ini, maka KH. Hasyim Asy'ari merumuskan Kitab Qanun Asasi (prinsip dasar), kemudian juga merumuskan kitab I'tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah. Kedua kitab tersebut kemudian diejawantahkan dalam Khittah NU, yang dijadikan dasar dan rujukan warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan dan politik.

Dikutip dari NU Online.

06/04/20

Mengenal Kitab Dalail al-Khairat

Kitab Dalail al-Khairat.
Kitab Dalail al-Khairat berisi kumpulan doa, shalawat, dan hizib yang dihaturkan kepada Nabi Muhammad Saw., yang meliputi gambaran tentang fisiknya, akhlaknya, mukjizatnya, makamnya, nama-nama dan gelar kehormatannya, anjuran dan sekaligus manfaat bershalawat kepadanya, dan sejumlah pengagungan lainnya.

Secara harfiah, dalail bentuk jamak dari dalil berarti bukti atau petunjuk, sedangkan al-khairat, jamak dari khair adalah kebaikan. Dalail al-Khairat berarti “petunjuk-petunjuk selaksa kebaikan”. Sebagian ulama menafsirkan “selaksa kebaikan” itu adalah syafaat Nabi, baik di dunia maupun di akhirat. Dalail al-Khairat berarti “petunjuk memperoleh syafaat”.

20/05/19

“Wallahul Muwaffiq…” Khas NU, Siapakah Pecetusnya?

KH. Achmad Abdul Hamid, Kendal.
Di kalangan masyarakat luas, apalagi nahdliyin, tentu tidak asing dengan kalimat penutup ceramah, pidato, atau pengajian, yang berbunyi “Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq”. Kalimat ini juga dipakai dalam surat-menyurat khas warga NU sebelum salam penutupan. Arti harfiahnya kurang lebih, “Allah adalah Dzat yang memberi petunjuk ke jalan yang selurus-lurusnya.”

Siapakah pencetus dari kalimat khas tersebut?

08/05/19

Tentang Qanun Asasi

KH. Hasyim Asy'ari dan Masyarakat Pedesaan
(dipotret ulang dari lukisan Haitamy El Jaid)
Warga Nahdlatul Ulama semestinya mengetahui tentang Qanun Asasi. Ini merupakan pokok pikiran dan pedoman dasar organisasi. Qanun Asasi awalnya adalah taushiyah yang disampaikan oleh Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari yang bertajuk Mukadimah Qanun Asasi. Taushiyah ini kemudian disalin menjadi Statuten (Anggaran Dasar) ketika NU didirikan secara resmi pada 1926 sebagai organisasi sosial keagamaan.

Mukadimah Qanun Asasi memiliki posisi yang strategis sebagaimana Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Mukadimah ini merupakan semangat awal gerakan NU yang menjiwai seluruh perjalanannya sebagai jamaah nahdliyin.